Tips Mengatasi Masalah Dengan Tetangga


Tips Mengatasi Masalah Dengan Tetangga
Ibu-Ibu Cluster Taman Bunga Bukit Cimanggu City, Bogor
Tetangga adalah saudara terdekat. Sebuah pepatah yang tidak pernah usang dan tidak pernah berhenti disampaikan dari satu generasi ke generasi lainnya. Sebuah kalimat yang mencerminkan bagaimana setiap individu mengharapkan untuk selalu berada dalam lingkungan yang harmonis.

Bagaimanapun, manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Ia harus dan akan selalu hidup dalam sebuah lingkungan berisi manusia-manusia lain. Ia tidak akan bisa hidup sendiri dan perlu bantuan manusia lainnya. Itulah kodrat manusia.


Mudah diucapkan, sulit untuk diwujudkan. Itu juga sebuah pepatah yang berdasatkan fakta dimana mulut memang gampang sekali mengeluarkan kata-kata, tetapi mewujudkannya dalam tindakan terkadang terasa susah.

Padahal, untuk mewujudkan ucapan terdiri dari empat kata tadi, akan banyak sekali hambatan dan halangan yang akan hadir. Di dunia ini tidak ada yang diberikan cuma-cuma. "There ain't such a free lunch".kata orang bule yang bisa berbahasa Inggris. Tidak ada makan siang gratis.

Untuk mewujudkan sebuah lingkungan yang harmonis dan menyenangkan, tentunya tidak akan semudah mengucapkan pepatah di atas. Salah satu penyebabnya adalah tentang "masalah dengan tetangga".

Terkadang hanya hal sepele, seperti dahan pohon tetangga yang menjulur masuk ke dalam area rumah kita. Bisa juga hanya sekedar karena kita memasang musik terlalu keras, atau anjing peliharaan tetangga menyalak terlalu keras.

Semua itu sebenarnya hanyalah hal remeh saja. Tidak ada kerugian secara langsung secara materi atau mental. Meskipun demikian, hal-hal sepele seperti itu bisa menjadi penyebab terganggunya hubungan antar tetangga. Tujuan menjadikan tetangga sebagai saudara terdekat bisa tiba-tiba buyar ketika masalah itu tidak bisa diselesaikan dengan baik.

Contoh sederhana saja, adalah berita baru-baru ini tentang seorang jaksa KPK (Komisi Pemberantasa Korupsi) yang menuntut tetangganya hanya karena pohonnya ditebang. Tuntutannya tidak main-main, 6 Milyar rupiah diajukan dimana 4 Milyar adalah pengganti kerugian Immateriil, alias tidak berkaitan langsung dengan kerugian fisik.

Padahal, masalah seperti itu seharusnya bisa diselesaikan dengan cara baik-baik, tanpa harus menempuh jalur hukum yang kerap hanya berujung pada menang atau kalah saja. Juga, sesuatu yang tidak menyenangkan untuk dijalani dan memakan biaya.

Ada banyak sekali jalan keluar untuk menyelesaikan masalah dengan tetangga seperti itu. Pengalaman terakhir yang saya alami terjadi beberapa hari yang lalu. Sebagai pengurus RT (Rukun tetangga), saya diminta pak Ketua RT untuk menemani penyelesaian masalah terkait binatang peliharaan, anjing.

Seorang tetangga non muslim, memiliki setidaknya 5 ekor anjing peliharaan. Anak beranak. Bisa dikata anjing-anjing itu tidak berkeliaran secara liar dan tetap terjaga di dalam halaman rumahnya. Sayangnya, saking semangatnya melindungi rumahnya, setiap orang yang tidak dikenalnya maka akan digonggongi. Maklum, namanya juga binatang yang tidak pernah bergaul.

Tidak ada masalah. Kebanyakan orang di lingkungan dimana saya tinggal mengerti bahwa ada orang yang begitu mencintai binatang peliharaannnya. Tidak ada keberatan.

Masalahnya, pada akhirnya, tetangga terdekat merasa sedikit tidak nyaman dengan situasi itu. Ia pun tidak mempermasalahkan mengenai anjingnya, begitu juga jumlahnya. Yang ia rasa kurang nyaman adalah karena ke-5 anjing itu sering menggonggong secara bersamaan dan setiap ada orang lewat di depan rumahnya.

Bisa bayangkan berapa desibel suara mereka?

Dan, hal itu terjadi tanpa kenal waktu.

Lalu, sang tetangga menyampaikan permasalahannya kepada pak ketua RT, dengan baik-baik tentunya. Tanpa marah-marah. Setelah dilakukan pembicaraan, akhirnya diputuskan untuk mempertemukan kedua belah pihak. Si pemilik anjing dan tetangga yang mengeluh.

Ternyata, masalah itu dapat diselesaikan bahkan tanpa harus mengencangkan otot leher dan bersuara keras.

Tetangga yang mengeluh hanya menyampaikan permintaannya kepada si pemilik anjing. Ternyata, sang pemilik anjing pun mengerti dengan baik situasinya. Ia meminta maaf kepada sang tetangga. Pada akhirnya, keduanya saling bertukar saran tentang bagaimana mengatasi agar para anjing tersebut tidak menggonggong ketika ada orang lewat.

Sesederhana itu saja pemecahan masalahnya.

Dari sinilah, saya pikir kalau memang ada masalah dengan tetangga. Apapun bentuknya, ada beberapa tips yang mungkin bisa dipergunakan, tanpa perlu sampai menimbulkan keributan panjang atau menempuh jalur hukum. Tentu, tidak bisa diterapkan di semua masalah, tetapi tentunya bisa dipakai pada banyak masalah ringan yang kerap hadir dalam kehidupan bertetangga.

Tips mengatasi masalah dengan tetangga (hal ringan dan sepele) itu adalah

1. Berprasangka Baik

Meski hidup dalam jarak yang dekat, pada dasarnya kita tidak 100% mengenal karakter dan cara hidup tetangga kita.

Oleh karena itu, terkadang manusia cepat berasumsi dan berprasangka. Kerap kita dengan cepat langsung mengambil kesimpulan hanya berdasarkan apa yang kita pikirkan saja. Belum tentu berdasarkan fakta yang ada.

Terkadang, asumsi seperti ini kerap mendorong emosi meninggi.

Saat menghadapi masalah antar tetangga, hal ini harus dihindari. Kerap bentrokan dan cekcok terjadi hanya karena tuduhan langsung dilontarkan tanpa mempertimbangkan fakta.

Untuk itu berprasangka baik kepada tetangga itu perlu. Dengan begitu, pikiran menjadi tenang dan kita bisa melihat fakta yang ada sebelum mencoba mencari jalan keluar. Kalaupun sulit, setidaknya buatlah agar prasangka berada di titik netral. Dengan begitu, tidak ada tuduhan yang akan terlontar tanpa melihat fakta dan data yang ada.

2. Komunikasikan Permasalahan

Diskusi, musyawarah adalah kata-kata yang selalu diajarkan kepada kita untuk menyelesaikan masalah. Hal itu bukan hanya berlaku pada forum resmi saja. Dalam menghadapi masalah antar tetangga pun cara yang sama harus dipakai.

Bila kita merasa terganggu akan sesuatu yang dilakukan tetangga, langkah pertama yang harus dilkaukan setelah membuang prasangka buruk adalah bertemu dengan tetangga itu. Sampaikan apa yang menjadi ganjalan di hati, tentunya dengan cara dan bahasa yang baik.

Hal itu terbukti manjur dalam banyak kasus.

Tidak perlu terbawa emosi.

3. Jangan Bergosip

Komunikasikan masalah dengan tetangga "yang membuat masalah itu hadir". Bukan tetangga yang tidak ada kaitannya.

Kebiasaan membicarakan masalah dengan orang yang tidak ada kaitannya kerap kali menjadi masalah tersendiri. Sikap seperti ini mirip dengan melempar bensin ke dalam percikan api.

Masalah yang sebenarnya sepele bisa berubah menjadi besar ketika omongan menyebar dari pintu ke pintu.

Hindari membicarakan masalah antar tetangga dengan tetangga yang lain. Lebih banyak bahayanya dibandingkan manfaatnya.

4. Libatkan Pengurus Lingkungan

Ada alasan mengapa namanya RT (Rukun Tetangga) dan RW (Rukun Warga). Para pengurus lingkungan terkecil dalam masyarakat ini memiliki fungsi untuk menjalin kerukunan antar manusia yang hidup di lingkungan yang sama.

Mereka, setidaknya diberi wewenang "kecil" untuk coba menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi warganya, terutama dalam interaksi antar tetangga.

Berdiskusi dan meminta saran dari para pengurus lingkungan ini jauh lebih baik dan bisa diterima banyak pihak saat menyelesaikan masalah antar tetangga dibandingkan dengan bergosip.

Tips menyelesaikan masalah antar tetangga


Tips yang mungkin dianggap banyak orang sudah basi. Tetapi, pengalaman menunjukkan bahwa tips basi seperti ini berhasil meredam banyak "percikan" dan "benih" perseteruan antar tetangga. Banyak masalah sepele yang berhasil dipadamkan dan tidak menjadi besar dengan cara seperti ini.

Sayangnya, sama seperti sulitnya mewujudkan pepatah "tetangga adalah saudara terdekat", untuk menjalankan tips ini tidak mudah. Butuh pengorbanan yang sangat besar dari diri yang terlibat.

Pengorbanan itu berupa EGO. Lebih mudah memadamkan kebakaran dibandingkan meminta orang mengorbankan hal itu dari dirinya. Tetapi, dengan pemahaman bahwa kalau terjadi percekcokan besar di lingkungan yang menjadi korban adalah diri sendiri, seharusnya bisa dilakukan. Bayangkan saja tidak enaknya tinggal dalam lingkungan yang sama dan bertemu muka dengan orang sambil terus menerus membawa kemarahan dan kekesalan.

Tidak enak rasanya pasti.

Jadi, maukah kita mengorbankan ego kita sendiri demi menyelesaikan masalah dnegan tetangga kita?

Tanyakan hal itu kepada diri sendiri.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel