Memaksakan Impian Orangtua Kepada Anak Bukanlah Hal Yang Bijaksana


Memaksakan Impian Orangtua Kepada Anak Bukanlah Hal Yang Bijaksana

Anda ingin anak Anda menjadi apa saat ia besar nanti? Boleh kan saya bertanya? Soalnya terus terang, saya dan istri hanya punya satu impian bagi si kribo cilik yang sedang dalam masa pubernya ini, yaitu agar ia bisa menjadi orang yang mandiri dan tentunya bisa bermanfaat bagi masyarakat.

Tidak ada lagi yang lain. Kami tidak pernah ingin ia menjadi dokter, insinyur, atau bahkan pejabat dengan gaji yang besar. Bahkan, kalau ditanya impian apa yang kami punya selain yang sudah disebutkan di atas tadi, saya hanya bisa menggelengkan kepala saja. Pertanyaan yang tidak akan pernah bisa saya jawab.

Saya tidak punya jawaban untuk itu.

Yang punya jawaban adalah si kribo kecil.

Yah. Hanya dia yang bisa menjawab mau menjadi apa di masa depan. Bukan kami orangtuanya.

Memang terdengar konyol karena di tengah masyarakat dimana orangtua masih dipandang sebagai "penentu" masa depan seseorang, kami memutuskan untuk tidak melakukannya lagi. Kami, orangtuanya berpandangan bahwa memang sudah seharusnya si kribo lah yang menentukan hidupnya sendiri.

Ia orang yang berhak menentukan impian apa yang ingin dicapainya. Kehidupan seperti apa yang ingin dijalaninya. Bukan kami.

Memang sebagai orangtua, kami memiliki berbagai hak yang diatur secara hukum dan norma, tetapi tetap saja kami bukanlah pemilik si kribo. Ia adalah miliknya sendiri, begitupun kehidupannya di masa datang.

Sangat tidak bijaksana sekali merampas "hak" yang bukan milik kami. Kehidupan seorang anak adalah miliknya sendiri dan bukan milik orangtuanya. Apalagi, kehadirannya di tengah keluarga kami sudah memberikan sesuatu yang lebih berharga, namanya kebahagiaan. Tanpa kehadirannya, mungkin kami sulit merasa bahagia seperti saat ini.

Kami hanya bisa berperan sebagai pendamping sampai suatu saat ia bisa berdiri sendiri dan bisa memilih jalannya sendiri. Peran dan hak yang diberikan kepada kami tidak termasuk memaksakan impian yang kami punya kepada dirinya.

Sama sekali tidak.

Seorang anak bagi kami bukanlah hak milik. Ia adalah manusia yang pada saatnya nanti menjadi pemilik bagi dirinya sendiri. Ia berhak menentukan apapun yang dia mau.

Oleh karena itu, terkadang agak heran ketika melihat banyak orangtua terkadang memaksakan impian yang dimilikinya kepada anaknya, seperti si anak harus masuk sekolah tertentu karena dulu ia bersekolah disana. Tidak jarang sampai mereka rela melakukan hal-hal yang tidak benar hanya agar impian anaknya bersekolah di sekolah yang sama terwujud.

Padahal, seringkali hal itu justru menghadirkan beban bagi sang anak sendiri. Impian orangtuanya terkadang menjadi kendala terbesar bagi seorang anak untuk menjalani dan menikmati kehidupannya.

Itulah yang tidak kami inginkan terjadi pada diri si kribo cilik.

Ia harus menjadi orang yang bisa menjalani hidupnya penuh dengan kegembiraan dan keceriaan, tanpa ada beban yang diwariskan orangtuanya.

Tidak berarti bahwa ia akan benar-benar bebas tanpa tanggungjawab karena sebagai anggota masyarakat ia akan memiliki tanggungjawab tersendiri yang harus dijalaninya. Ia juga harus sadar bahwa ada konsekuensi dari segala tindakannya.


Tetapi, kami tidak mau impian kami menjadi penghambatnya menjadi manusia yang ia inginkan.

Mau jadi dokter, mau jadi pedagang, mau jadi pemulung sekalipun bukan masalah untuk kami. Tetapi, kami akan mengingatkan dan mengarahkan saja.

Kalau ia mau jadi dokter, jadilah dokter yang benar-benar membantu orang yang sedang sakit dan bukan dokter yang sekedar mengumpulkan uang komisi dari perusahaan obat-obatan. Kalau mau jadi pedagang, jadilah pedagang yang bisa memberikan "lebih" dari harga yang dibayar pembeli barang dagangannya.

Bahkan, kami bilang kepada si kribo, kalau mau jadi pemulung pun tidak masalah, tetapi ia harus memastikan bahwa ia bisa menjual 10 truk barang hasil pulungan setiap harinya.

Tidak masalah.

Apapun impian si kribo, akan kami terima dengan senang hati. Selama ia menjadi orang yang berdiri sendiri, mandiri, dan tidak merepotkan orang lain. Bahkan, kalau bisa ia bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

Itu saja impian kami. Tidak ada yang spesifik,

Bagaimana dengan Anda?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel