Berat Badan Istri Merepotkan Suami

Berat Badan Istri Merepotkan Suami

Berat Badan Istri Merepotkan Suami

Jahat ya terdengarnya sampai ada suami yang mengatakan bahwa berat badan istri merepotkan suami. Memang kalau dilihat secara harfiah, maka perkataan itu akan sangat menyinggung hati seorang wanita. Apalagi berat badan adalah masalah sesuatu yang sensitif dalam dunia wanita.

Masalahnya bukan terletak pada uang. Di pasaran, ukuran baju besar memang biasanya berharga lebih mahal dibandingkan ukuran untuk orang berbadan kecil.

Bukan. Bukan karena itu. Alhamdulillah, uang gaji dari bekerja di sebuah perusahaan trading masih sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sandang keluarga, dan dalam ukuran berapapun. Tidak pernah menjadi problem.

Juga, kerepotan itu bukan karena rasa rendah diri saat berjalan dengan dirinya. Justru, saat berjalan bersama kemanapun, saya suka merangkulnya atau menggandengnya. Tidak pernah ada rasa minder karena berjalan dengan seorang wanita yang tidak berpostur tubuh ideal. Apalagi, seorang wanita yang sudah menghadirkan begitu banyak kebahagiaan dalam kehidupan saya.

Tidak sama sekali ada perasaan itu hadir. Yang ada adalah sebuah rasa bangga bisa berdampingan dengan seorang sepertinya.

Yang menjadi kerepotan itu adalah kenyataan istri saya seorang wanita.

Sama dengan kebanyakan wanita lain, ia sangat peduli dengan yang namanya berat badan. Ia juga berharap tubuhnya bisa sama dengan Angelina Jolie atau Dian Sastro yang terlihat langsing, dan menurutnya "enak dipandang mata".

Oleh karena itu, ia selalu mengatakan memiliki keinginan untuk menurunkan berat badannya. Dietlah. Senam ini itulah. Beginilah. Begitulah.

Itupun masih belum merupakan sebuah kerepotan bagi saya suaminya. Yang saya lakukan sebagai tanggapan "Yo wis. Monggo". Silakan saja. Tidak masalah dengan semua hal itu. Biaya tidak masalah dan juga apa yang dilakukannya bagus untuk kesehatan.

Jadi, why not?

Yang paling merepotkan adalah karena si mantan pacar pada akhirnya sering bertanya "Aku segemuk cewek itu nggak" atau "Aku cantik nggak?"

Hadeuh.

Pertanyaannya mudah. Saya bisa menjawabnya dengan tulus bahwa, "Ya, kamu cantik kok" atau "Tidak lah, kamu tidak segemuk dia". Kenyataannya memang itulah yang saya rasakan.

Cuma, kalau pertanyaan itu ditanyakan berulangkali dan sering. Repotlah jadinya.

Mau tidak mau harus terus mencari jawaban yang berbeda tetapi intinya sama. Bagaimanapun saya cukup paham bahwa jawaban yang diberikan haruslah dipercaya agar bisa membangkitkan rasa bahwa suaminya pun memandangnya cantik.

Kata pakar psikologi, pertanyaan wanita itu harus dikonfirmasi karena ia membutuhkan jawaban secara verbal bahwa prianya mengakui dan menyayangi dirinya secara lisan.

Jadi,  repotlah saya terus menerus berusaha mencari cara lain untuk menjawab pertanyaan yang sama. Bukan demi saya, eh demi kepentingan saya juga sih, tetapi agar sang yayang percaya bahwa saya setulus hati menyayanginya.

Padahal, hal itu bertentangan dengan karakter kebanyakan pria, dan saya seorang pria, yang kerap malas untuk mengatakan sesuatu secara berulang-ulang. Membosankan.

Untungnya, sejak si kribo kecil beranjak dewasa dan besar, ia bisa membantu memberikan jawabannya. Dan, cara itu pada akhirnya saya pakai juga dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan itu , yaitu dengan "bercanda".


"Kamu dua kali lipat wanita itu, Neng? Biasanya itu yang keluar kalau pertanyaan "Gedean mana cewek itu sama aku, Mas"

Bercanda karena walaupum cewek yang dimaksud lebih besar, saya akan mengatakan sebaliknya.

Marah? Ternyata tidak.

Justru setelah itu kami biasanya akan tertawa. Ia akan "merajuk" dan merengut sebentar tetapi kemudian kami bertiga akan tertawa bersama. Ngakak.

Jadi, kerepotan itu memang masih merepotkan sampai sekarang. Pertanyaan itu tetap terucap bahkan di saat sedang mengendarai mobil sekalipun kadang hadir, tetapi kali ini sudah tidak begitu merepotkan lagi karena jawaban standarnya sudah tersedia.
Advertisement

Baca juga: