Ayah, Bunda, Jangan Pakai Kata Kasar Kalau Marah Yah

Ayah, Bunda, Jangan Pakai Kata Kasar Kalau Marah Yah

Ayah, Bunda, Jangan Pakai Kata Kasar Kalau Marah Yah

Marah itu biasa dan memang merupakan salah satu cara manusia melepaskan emosi. Setiap orang pasti pernah merasakan desakan emosi yang tidak tertahankan. Bukan sebuah hal yang aneh.

Begitu juga kalau orangtua marah kepada anaknya. Bukan sesuatu yang istimewa dan biasa dilakukan hampir semua orangtua kalau si anak melakukan kesalahan atau tidak mau menuruti apa yang dikatakan ayah atau bundanya. Bisa juga terjadi karena kekecewaan yang sangat karena sang anak tidak bisa memenuhi ekspektasi orangtuanya.

Sayangnya, banyak orangtua, karena emosi yang sudah terlalu tinggi, tidak bisa mengontrol dirinya. Banyak orangtua yang mengumpat dan memakai kata-kata kasar saat sedang marah.  Padahal, hal ini tidak seharusnya dilakukan.

Banyak sekali dampak terhadap sang anak, jika orangtua memarahi mereka dengan menggunakan kata-kata yang kasar atau tidak pantas, seperti "Tolol banget sih kamu!", "Dasar Monyet", atau "Goblok kamu", dan masih banyak lainnya.

Saya sendiri sudah berulangkali mendengar makian yang kurang pantas didengar dilontarkan rekan-rekan sesama orangtua yang seperti itu.

Bukan hanya tidak enak didengar, tetapi ada resiko yang bisa hadir kalau hal seperti itu terus dilakukan, contohnya :

1. Sang anak akan meniru

Panutan anak yang pertama adalah orangtua mereka. Jadi, kalau orangtua marah dengan memakai kata-kata kasar, hal itu seperti memberikan contoh kepada sang anak untuk menirunya. Tentu tidak akan dilakukannya kepada ayah ibunya, tetapi ada kemungkinan ia akan menerapkannya dalam pergaulannya.

2. Menghadirkan perasaan rendah diri

 Yah, anak juga punya perasaan. Terus menerus disebut goblog atau tolol dalam nada yang tinggi jelas akan memberikan dampak psikologis pada diri mereka.

Perkataan-perkataan seperti ini bisa menjadi sugesti bagi dirinya sendiri dan ia akan beranggapan bahwa dirinya memang seperti itu.

3. Melahirkan "pemberontakan"

Sama dengan orangtua, anak juga punya batas kesabaran. Apalagi di masa sekarang dimana anak-anak semakin kritis.

Penggunaan kata=kata kasar saat marah sama dengan memberi tekanan tingkat tinggi kepada si anak. Kebanyakan akan menunduk dan diam, tetapi banyak juga anak yang akan memberontak dan menentang.

Pemberontakan anak bisa terjadi dan akan membuat situasi bertambah ruwet karena emosi akan semakin meninggi dari kedua belah pihak.

Kata-kata kasar tidak akan membantu anak untuk menyadari kesalahannya. Justru, penggunaannya lebih banyak memberikan dampak buruk kepada anak. Pada akhirnya, tetap saja tambahan kerepotan untuk memperbaikinya akan menjadi tanggungjawab orangtua.

Marah seharusnya dilakukan agar si anak menyadari kesalahan yang diperbuatnya . Itu target marah dan bukan menyebabkan perasaan rendah diri, pemberontakan, atau tekanan batin. Target tidak tercapai, yang ada malah masalah baru timbul.

Cukuplah dengan meninggikan nada suara saja, tanpa perlu pakai kata-kata kasar.

Lagipula, bukankah tidak akan enak ketika sedang asyik marah dan berkata "Dasar anak monyet lu!", kemudian sang anak  menimpali dengan "Berarti, ayah/bunda juga monyet". Itu masih bagus, lebih parah lagi kalau tetangga yang berkomentar"Berarti itu keluarga monyet dan bapak ibunya juga monyet".

Iya kan?
Advertisement

Baca juga: