Tidak Perlu Terlalu Berlebihan Memandang Nilai di Raport Anak


Raport. Entah darimana asal katanya. Dalam bahasa Inggris, bahasa darimana diduga asal kata ini, kata "raport" itu tidak ada. Yang ada "report" dan "rapport".

Kata pertama berarti laporan. Kata kedua, lebih sulit untuk dijelaskan, bermakna hubungan harmonis antar manusia dalam sebuah kelompok.

Tidak tahu jelasnya asal muasal kata raport itu sendiri.

Yang pasti, setiap ada pembagian "raport", maka banyak orangtua yang akan mengalami panas dingin, cemas, khawatir, atau galau istilah masa kininya.

Rasa-rasa itu hadir karena banyak orangtua menyadari kalau mereka akan dihadapkan pada situasi dimana mereka harus memutuskan untuk "merasa malu", "merasa bangga", harus memuji atau harus memarahi anak kesayangan mereka. Dan, mereka tidak bisa menduga sampai mereka melihat nilai-nilai di raport buah hati mereka.

Nilai di raport yang bagus akan membuat mereka "bangga" dan biasanya segera mengupdate status dengan ucapan "Hasil kerja keras anakku, selamat ya sayang". Kalau nilainya rendah, biasanya tidak akan ada status Facebooknya, tidak ada status yang mengatakan "Kamu ngapain aja sayang. Ini hasil kamu main game terus".

Kalau ada yang begitu, jempol saya empat-empatnya akan diacungkan untuk si pembuat.


Menanti saat pembagian raport adalah saat yang menegangkan. Tidak sama seperti menunggu saat bayi dilahirkan, tetapi banyak orangtua akan merasa mules dan tegang menanti lembaran-lembaran berisi nilai prestasi anaknya disuguhkan di depan mata.

Tidak jarang ada orangtua yang tiba-tiba merasa lemas saat memandang nilai-nilai rendah tertera di lembaran raport anaknya. Dunia bisa tiba-tiba terasa suram dan masa depan anaknya seperti gelap.

Angka 40,50, adalah angka sial yang tidak pernah diharapkan hadir. Angka 60 hanya cukup membuat para orangtua merasa lega sedikit. Angka 70-80 menghadirkan senyuman. Angka 90-100 bisa membuat orangtua langsung merasa berada di langit lapisan ke 5 (belum sampai ke 7 tapinya).

Begitu kuatnya pengaruh raport anak pada mood para orangtua.

Padahal seharusnya tidak demikian.

Nilai raport adalah angka statistik saja.

Angka ini tidak menentukan apa-apa dan tidak seharusnya para orangtua mengambil kesimpulan terlalu dalam dan jauh dari angka-angka itu.

Nilai di raport tidak menentukan masa depan anak dan buah hati kesayangan kita. Apa yang tertera di dalamnya hanyalah semacam indikator saja.

Indikator sejauh mana seorang anak :

  1. 1. Mampu menyerap pelajaran formal di sebuah lingkungan pendidikan formal tertentu
  2. 2. Kemampuan anak dalam berkompetisi dengan anak-anak seusianya dalam hal tertentu
Tidak kurang, tidak lebih.

Itu saja.

Dengan laporan dari pihak sekolah, dimana para orangtua menyerahkan sebagian wewenang mereka dalam mendidik anak, para orangtua bukan diharapkan untuk merasa malu, bangga, sombong, minder. Yang pasti, orangtua tidak diharapkan untuk menatuhkan vonis masa depan anaknya SURAM atau CERAH.

Kenyataannya tidak demikian. Masa depan anak, berhasil atau tidaknya, terlalu jauh untuk bisa diprediksi hanya berdasarkan nilai raport saja.

Yang diharapkan dari para orangtua adalah

1. Menemukan kelebihan dan kekurangan anak mereka berdasarkan data yang tersedia


Dengan angka-angka yang ada bisa dilihat dimana seorang anak memiliki kelemahan. Selain itu, bisa dilihat apa yang menjadi kekuatan dari sang anak.

Ingat saja. Setiap anak itu berbeda. Masing-masing, persis orangtuanya, punya kelebihan da kekurangan.

Nilai raport bisa membantu para orangtua mengarahkan sang anak. Yang lemah diperbaiki, yang sudha bagus dipertahankan dan dikembangkan lebih lanjut.

2. Mengingatkan sang anak akan kerasnya kompetisi di kehidupan nyata


Kompetisi ada dimana-mana dan di zaman kapanpun. Bukan hanya sekarang.

Nlai raport dapat berguna untuk menjelaskan kepada anak betapa persaingan di dunia nyata sering begitu keras dan membutuhkan semangat dan kemauan untuk survive yang tinggi. Angka yang ada di laporan dari sekolah itu dapat dipakai sebagai indikator kemampuan sang anak dalam berkompetisi dengan yang lainnya.

3. Pencapaian terhadap target/tujuan


Seseorang yang ingin menjadi seorang dosen, profesor, akuntan dan lain sebagainya memerlukan pencapaian tertentu di pendidikan formal, seperti nilai raport harus 80-90 secara rata-rata.

Pencapaian nilai raport yang di bawah target bisa menggagalkan target yang diinginkan. Untuk itulah para orangtua bisa menggunakan apa yang tertulis di raport untuk melihat "peluang" keberhasilan pencapaian target dan tujuannya.

4. Melakukan koreksi

Walau hanya sekedar angka, nilai di raport jika dikombinasikan dengan tingkah laku anak sehari-hari, bisa menghasilkan sebuah langkah "koreksi".

Angka raport yang rendah bisa diartikan "kurang belajar", "kurang mengerti", "masalah dalam menangkap pelajaran" dan lain sebagainya.

Dengan begitu orangtua bisa memutuskan melakukan tindakan koreksi agar sang anak bisa memperbaiki hal-hal yang dianggap salah disana.

Tidak perlu dipandang berlebihan.

Nilai di raport hanyalah angka indikator saja.

Tidak menentukan apa-apa. Masa depan anak masih tetap ada di tangan si anak sendiri dan orangtuanya. Bukan pada nilai raportnya.

Tidak perlu juga merasa terlalu bangga atau sombong karena nilai yang baik. Tidak perlu juga menjadi minder dan malu karena nilai yang rendah.

Apa yang terjadi di masa depan, tidak ada seorang pun yang bisa memastikan. Yang bisa dilakukan hanyalah berusaha sebaik mungkin.

Pergunakan raport sebagai alat untuk membantu sang anak mencapai apa yang dikehendakinya, cita-citanya.

Hal itu tidak akan bisa dilakukan ketika para orangtua memandang terlalu berlebihan nilai raport anaknya.

Kalau berlebihan dalam menyikapinya, yang ada adalah situasi dimana orangtua terlalu sibuk memarahi dan memaki sang anak  atau tidak henti menyebar status Facebook tentang keberhasilan anaknya.

Sulit untuk bisa mengarahkan ketika orangtua tenggelam dalam "kesibukannya" sendiri.



2 Responses to "Tidak Perlu Terlalu Berlebihan Memandang Nilai di Raport Anak"

  1. Saya sangat setuju sekali dengan artikel ini. Sebagai seorang wali kelas, saya selalu menyampaikan kepada murid-murid saya, bahwa yang tertulis di raport itu hanyalah angka. Yang paling utama, sejatinya adalah ilmu yang mereka peroleh dan bagaimana mereka menggunakannya.

    Pernah suatu ketika, salah seorang siswa saya menangis diam-diam setelah pembagian raport. Saya dekati dan tanya alasannya. Ternyata ibunya kecewa karena pas masuk SMA dia hanya berhasil meraih juara 2. Padahal selama di SMP selalu meraih juara 1. Dia dianggap kurang serius belajar.

    Padahal nilai raportnya bagus sekali. Tidak ada 7, hanya ada 8 dan 9.

    Kenyataannya, SMA tempat saya mengajar termasuk SMA unggulan. Banyak para juara 1 sewaktu SMP yang bersekolah disana. Jika mereka berkumpul dalam satu kelas, tidak mungkin semuanya menjadi juara 1 saat SMA.

    Jika para orangtuanya bisa berpikir bijak seperti Bapak, sang juara 2 tersebut tak perlu menangis saat menerima raport.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kasihan benar yang seperti itu.. Pengalaman saya mengatakan bahwa kesuksesan tidak selalu bisa diukur dari nilai raport.

      Beberapa teman saya yang nilai raportnya pas-pasan saat sekolah dan kuliah, justru berhasil menjadi orang sukses. Sebaliknya beberapa teman yang nilainya bagus-bagus selama sekolah, justru di kehidupan biasa-biasa saja dan bahkan ada yang kesusahan.

      Semoga makin banyak wali kelas seperti Nisa yang bisa memberi penjelasan kepada orangtua bahwa raport bukanlah akhir dari segalanya. Perjalanan kehidupan seorang anak itu panjang sekali, tidak bisa diukur dari sekedar melihat nilai raportnya saja

      Delete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel