Para Orangtua : Anak Kecanduan Handphone (Gadget)? Salahkan Diri Sendiri, Jangan Orang Lain

Para Orangtua : Anak Kecanduan Handphone (Gadget)? Salahkan Diri Sendiri, Jangan Orang Lain


Sudah menjadi sebuah hal yang umum kalau mendengar keluhan banyak orangtua tentang anak mereka yang kecanduan Handphone/HP atau gadget. Bukan hanya di Indonesia, tetapi di banyak bagian bumi yang lain, masalah ini juga terjadi.

Jadi, kalau anak Anda kecanduan bermain gadget atau smartphone, tidak perlu merasa berbeda dan gagal dalam mengurus anak, karena kenyataannya jutaan orangtua mengalami hal yang sama, dan di seluruh dunia. Paling tidak "gagal"nya jadi tidak sendirian, barengan dengan entah berapa orangtua lainnya.

Yang menjadi masalah, kenyataannya dari sekian banyak orangtua yang menghadapi masalah kecanduan ini, menyalahkan pada si anak. Tidak jarang mereka marah-marah ketika anaknya tidak mau mematuhi perintah mereka untuk berhenti memainkan smartphonenya.

Lucu juga sebenarnya kalau para orangtua melakukan itu.

Kenapa lucu? Ya, lucu saja.

Karena tidak seharusnya mereka menyalahkan anak mereka atas kebiasaan tersebut. Bukan anak yang salah (kalau berusia di bawah 17 tahun yah), mereka para orangtua yang salah dalam hal ini.

Jangan lempar batu sembunyi tangan.

Coba saja uraikan sedikit situasi yang terjadi itu dengan pertanyaan-pertanyaan berikut. Nanti akan ditemukan ujung pangkal masalahnya.

Siapa yang membelikan anak handphone/gadget/HP?

Ya, mayoritas adalah para ORANGTUA.

Kebanyakan anak berusia di bawah 17 tahun masih tergantun pada orangtuanya secara ekonomi. Smartphone, walau semakin murah tetap saja biasanya berada di luar jangkauan kantung anak-anak.

Keputusan untuk membelikan atau tidak pun dilakukan oleh ayah atau ibu. Meski biasanya dimulai dengan rengekan si anak , tetapi tetap saja ayah dan ibu lah yang menjatuhkan palu keputusan untuk jadi beli atau tidak.

Betul kan?

Cara paling efektif untuk mencegah anak kecanduan smartphone adalah dengan TIDAK MEMBELIKANNYA.

Dengan begitu sudah pasti ia tidak akan memegang gadget terus menerus. (Bagaimana bisa memegang kalau barangnya tidak ada? Logika sederhana saja)

Sudahkah mengajarkan cara menggunakan gadget dengan baik dan benar?

OK OK.. Jangan sewot.

Bisa dimengerti bahwa di masa kini, tentunya para orangtua pun tidak ingin anaknya menjadi gaptek (gagap teknologi) dan tertinggal dari kawan-kawan mereka.

Sangat bisa dimengerti.

Bagaimanapun, manusia memang harus dan dituntut mengikuti perkembangan budaya di sekitarnya. Kegagalan untuk melakukan ini akan melahirkan dampak dalam berbagai hal, mulai rasa rendah diri sampai dibully, bisa terjadi. Belum lagi sisi komunikasi dapat membantu orangtua mengawasi anaknya.

Jadi, tidak salah memang kalai para orangtua membelikan anaknya gadget. Walau berarti dengan begitu membuka celah dan menghadirkan resiko juga, yang namanya kecanduan hape atau smartphone itu tadi.

OK-lah.

Tetapi, pertanyaan berikutnya, kalau memang memutuskan untuk membelikan, sudahkah para orangtua mengajarkan

  1. Apa itu smartphone?
  2. Apa kegunaan dan fungsinya?
  3. Bagaimana cara menggunakannya?
  4. Bahaya yang terkandung di dalamnya?
Mengajarkan dalam hal ini bukan tentang bagaimana cara mengirim pesan via Whatsapp atau BBM atau Line. Juga bukan dengan sekedar menyuruh anak membaca buku manual smartphone yang diberikan kepadanya.

Bukan itu.

Setiap benda yang kita pakai akan menghadirkan konsekuensi dan resiko. Begitu juga dengan smartphone.

Smartphone akan membuka dunia bagi si anak. DUNIA.


Dalam dunia bukan hanya ada yang BAIK-BAIK saja, tetapi juga ada yang BURUK juga. Predator anak berkeliaran di dunia maya dimana identitas mudah sekali dipalsukan. Ada juga konflik-konflik. Ada juga hoaks dan sebagainya.

Smartphone bukan hanya membawa kebaikan, pengetahuan mendekat ke si anak, tetapi juga berbagai kejelekan dan keburukan pun akan beramai-ramai datang ke si anak.

Nah, sudah kah Anda memberikan tameng kepada si anak?

Sudahkah para orangtua memberitahukan bahwa terlalu banyak memandang layar smartphone bisa memberi efek buruk pada matanya? Sudahkah si orangtua mengajarkan bahwa tugas sekolah lebih penting daripada chatting dengan teman tak dikenal di ujung dunia entah sebelah mana? Sudahkah para orangtua memberikan batasan yang boleh dan yang tak boleh dilakukan dengan gadgetnya?

Sudahkah... ini dan itu yang susah dirinci saking banyaknya.

Anak tetaplah anak. Ia masih membutuhkan bantuan pengalaman dan kebijakan orangtuanya untuk memilah mana yang bisa menimbulkan dampak baik dan mana yang buruk. Ia belum bisa berdiri sendiri.

Oleh karena itu sudah seharusnya, ketika orangtua memutuskan membelikan anaknya smartphone atau hape, ia pun harus mengajarkan "CARA MEMPERGUNAKANNYA" dengan baik. Tanpa itu, sang anak akan bisa "kehilangan kendali" dan melahirkan ekses-ekses negatif yang membuat repot orangtuanya.

Masalahnya, kebanyakan orangtua tidak melakukan "pengajaran" tentang smartphone. Banyak dari mereka beranggapan bahwa hal itu adalah naluriah saja dan akan berjalan bersamaan dengan waktu. Padahal tidak.

Anak tetap anak. Yang masih harus banyak belajar dan diajari.

Sayangnya, para orangtuanya juga terkadang juga sedang kecanduan smartphone atau hapenya. Mereka merasa terganggung kalau anaknya bertanya ini dan itu. Mereka sering tidak peduli apa yang dikerjakan anaknya selama mereka tidak mengganggu kegiatannya.

Saat itulah anak kehilangan pembimbing yang seharusnya mengajarkan dirinya pengetahuan tentang dampak buruk dari smartphone. Lebih jauh lagi, mereka diberi contoh bahwa "BEGITULAH CARA MENGGUNAKAN SMARTPHONE/HP", yang sebenarnya tidak seharusnya dicontoh.

Jadi, orangtua seharusnya tidak marah-marah kepada si anak kalau mereka tidak bisa lepas dari gadget mereka. Kesalahan itu ada pada orangtuanya. Seharusnya para orangtua harus memarahi diri sendiri karena merekalah penyebab semua itu.

Merekalah penyebab para anak kecanduan HP.




Advertisement

Baca juga: