Berbisnis Dengan Tetangga Memiliki Resiko Yang Lebih Dari Sekedar Masalah Uang

Berbisnis Dengan Tetangga Memiliki Resiko Yang Lebih Dari Sekedar Masalah Uang


Bisnis selalu mempunyai resiko. Tidak pernah ada bisnis yang tidak memiiki resiko karena memang kodratnya begitu. Untuk meraih profit yang diinginkan, para pebisnis harus jeli me-manage yang namanya resiko agar tidak berubah menjadi bencana atau masalah, yang tentunya akan mengundang kerugian.

Itulah sifat dari dunia bisnis.

Salah satu langkah yang diambil untuk mengurangi resiko tadi adalah melakukannya dalam bentuk kelompok yang terdiri dari beberapa orang. Dengan begitu, resiko per-orangnya menjadi semakin kecil dan kesempatan untuk sukses dan meraup keuntungan  akan semakin besar.

Kesempatan itu akan menjadi lebih besar, ketika orang-orang yang bergabung dalam sebuah usaha bisnis adalah mereka-mereka yang sudah lama dikenal, seperti keluarga, teman, atau tetangga. Alasannya adalah karena dengan mengenal masing-masing karakter dan sifat maka pengelolaan sebuah usaha akan semakin mudah dan lancar. Konflik akan dapat dikurangi mengingat sudah saling mengenal dan laju usaha bisnis tersebut diharapkan bisa lebih mulus ke arah target utama, profit.

Teorinya demikian.

Setidaknya, cukup banyak orang berpandangan begitu, seperti para tetangga saya yang sedang semangat-semangatnya untuk berbisnis dan mendirikan perusahaan berkongsi dengan tetangga yang lain.

Saya pun diajak untuk ikut serta di dalamnya.

Tetapi, saya menolak.

Bukan karena tidak paham tentang alur pemikiran seperti di atas. Juga bukan menentang. Kegemaran membaca berbagai buku tentang ekonomi dan bisnis di masa lalu memberikan cukup pemahaman tentang keuntungan berbisnis dengan tetangga dan orang-orang yang kita kenal. Pekerjaan di bidang trading pun memberikan banyak pengalaman tentang dunia bisnia.

Teori di atas tidak salah. Benar adanya.

Resiko bisa diperkecil ketika rekan-rekan bisnis kita adalah orang yang sudah dikenal. Faktor kepercayaan satu dengan lain lebih baik dibandingkan jika dilakukan dengan orang tak dikenal dan hal ini membantu memperlancar roda organisasi.

Masalahnya adalah teori tersebut hanyalah "satu sisi" dari mata uang. Ada sisi lainnya yang kerap dilupakan orang banyak saat berbicara tentang bisnis. Sisi lainnya adalah UANG.

Uang, duit, money, atau apapun sebutannya adalah "benda" yang aneh dan seperti memiliki pengaruh "magis" yang kuat. Benda yang satu ini lebih ampuh dari keris Mpu Gandring, kalau sekarang masih ada, untuk merubah karakter dan sifat manusia.

Tidak banyak orang yang bisa bertahan terhadap pengaruh uang dan tanpa menyebabkan perubahan karakternya, kayak si Mark Zuckerberg itu. Tidak banyak.

Sebuah bisnis akan selalu menghadapi potensi

  • Untung
  •  Rugi
Keduanya berkaitan dengan kata uang.

Ok-lah bisnis yang dijalankan bersama tetangga itu berhasil dan sukses, uang ratusan juta rupiah bisa diraup dan dibagi.

Terlihat enak bukan.

Tetapi, pernahkah menyadari bahwa banyak sekali perselisihan di dunia hanya karena pembagian uang? Bukan hanya yang kelas ratusan juta atau ratusan milyar, seringkali puluhan ribu saja bisa membuat orang cakar-cakaran karena pembagian dianggap kurang adil.

Usaha bisnis yang untung menghadapi masalah bagaimana memuaskan rasa adil pada setiap pemegang sahamnya. Kemungkinan perselisihan tetap hadir di saat perusahaan sukses.

Jadi, bagusnya perusahaan rugi saja?

Tidak juga. Saat untung potensi penyebab perselisihan adalah bagaimana pembagian uangnya. Saat rugi, maka yang diributkan adalah siapa yang harus menanggung ruginya. Sudah biasa bahwa manusia maunya enak terus dan nggak mau rugi, kalau rugi orang cenderung mencari kambing hitam. Bukan hal aneh ketika melihat pemegang saham yang satu menuduh pemegang saham yang lain sudah mencurangi atau menjadi penyebab kerugian usaha mereka bersama.

Pengalaman bekerja di perusahaan sebelum ini menunjukkan hal itu. Perusahaan itu mengalami kerugian dan salah satu pemegang saham menyalahkan yang lain dan berujung pada tutupnya perusahaan itu.

Resiko ada di kedua sisi. Potensi perselisihan tidak hilang baik saat untung dan rugi.

Masalahnya, kalau rekan bisnis itu tetangga, imbas dari perselisihan di usaha, hampir pasti akan terbawa ke dalam kehidupan sehari-hari.

Masih sedikit orang yang bisa memisahkan antara menjadi pemegang saham dan menjadi tetangga. Keduanya sering dicampur adukkan.

Perasaan kesal dan marah saat di dunia bisnis, rentan terbawa ke dunia tetangga.

Hal itu akan menyulitkan untuk membangun hubungan yang harmonis dengan mereka yang hidup di lingkungan yang sama. Padahal, besar kemungkinan kita akan tinggal dalam waktu yang panjang, bahkan seumur hidup disana.

Tidak terbayangkan kalau sesama tetangga tidak saling menyapa hanya karena yang satu merasa tidak diberi jatah keuntungan yang adil.

Ampun.

Itulah efek UANG, tetapi bukan uang yang menjadi kekhawatiran saya untuk ikut terjun berbinis dengan tetangga. Efek sampingnya itu yang "lebih berbahaya".

Siapa yang tidak butuh UANG? Apalagi dalam jumlah besar, iya nggak? Dan, bisnis atau usaha mmberi peluang untuk mendapatkan itu.

Hanya saja, saya berpendapat, resikonya terlalu besar untuk diambil. Saya tidak bisa menanggung resikonya/ Lebih mudah melakukan bisnis dengan orang yang tidak begitu kita kenal.

Ketika ada masalah, maka bisa segera dilupakan daripada dengan tetangga sendiri. Bayangkan saja kalau setiap keluar rumah bertemu dengan istri tetangga yang cemberut dan manyun ke arah kita karena suaminya bercerita bahwa ia diperlakukan tidak adil oleh saya dan rekan bisnis lainnya.

Saya tidak ingin itu terjadi. Bukan saya saja yang harus menghadapi hal ini, tetapi istri dan anak juga pasti terkena imbasnya. Kehidupan mereka juga akan terganggu karenanya.

Sesuatu yang tidak saya harapkan dan alasan mengapa saya tidak mau terjun berbisnis dengan tetangga.

Daripada nanti rusuh, lebih baik tidak sama sekali.

Advertisement

Baca juga: