Bagusnya Kapan Yah? Anak Diajarkan, Mengenal Tentang , dan Diperbolehkan Berhubungan Dengan Lawan Jenis-nya?

Bagusnya Kapan Yah? Anak Diajarkan, Mengenal Tentang , dan Diperbolehkan Berhubungan Dengan Lawan Jenis-nya?


Ini satu pertanyaan yang pasti hadir di kepala banyak orangtua. Sejak dulu hingga sekarang, pertanyaan itu akan muncul. Kapan seorang anak diajarkan tentang lawan jenisnya? Kapan mereka diperbolehkan mengenal? dan Kapan mereka diperbolehkan menjalin hubungan dengan lawan jenisnya?

Jadi tiga pertanyaan, meski sebenarnya intinya cuma satu, yaitu hubungan dengan lawan jenisnya.

Di masa lalu, para orangtua cenderung mendirikan "benteng" di sekitar anak dalam kaitannya dengan lawan jenis dalam beberapa kalimat singkat, padat, jelas, tetapi menyebalkan.

"Jangan pacaran dulu sebelum bekerja"
"Sekolah dulu yang bener, jangan pacaran"
Dan sejenisnya.

Iya nggak? Pernah ngalamin?

Saya pernah kok.

Banyak teman-teman seangkatan juga mengalami hal yang sama.

Lalu, apa yang terjadi? Apakah saya dan teman-teman tersebut mematuhinya?

Ada yang pilih menjadi anak yang patuh, tetapi lebih banyak lagi yang tidak.

Jangan heran. Bagaimanapun "berpasangan" adalah kodrat dari manusia. Mereka memang harus berpasangan karena dengan begitu manusia bisa tetap "survive" dan ada. Ketertarikan terhadap lawan jenis adalah sebuah hal yang normal dan kodrati. Justru kalau hanya sesama jenis bisa menjadi sebuah masalah.

Jadi, mengenal dan kemudian menjalin hubungan antar lawan jenis adalah sebuah hal yang normal saja. Setiap manusia akan punya ketertarikan terhadap lawan jenisnya.

Hal itu juga disadari oleh orangtua di masa lalu. Mereka tidak mencoba menentang hal tersebut. Yang mereka coba lakukan hanyalah mengatur "timing" atau waktu kapan hal tersebut boleh dilakukan.

Mengingat beratnya konsekuensi dan resiko yang terkandung dalam hubungan dengan lawan jenis, mereka sudah menentukan batasan waktunya. Selama sang anak masih sekolah hal tersebut janganlah dilakukan.

Alasan utamanya adalah rasa takut orangtua bahwa hal tersebut bisa mengganggu konsentrasi belajar si anak kesayangan. Kalau sudah kacau konsentrasinya, bisa jadi akan membuat kacau pula sekolahnya. Ujungnya, masa depan gemilang yang diharapkan tidak akan bisa dicapai dan kehidupan sang anak akan ikut kacau.

Sebuah hal yang mulia.

Hanya, hal tersebut bertentangan dengan "gejolak" dalam diri seorang anak. Bagaimanapun, seorang anak, masih belum bisa 100% mengekang dan mengontrol emosi dirinya sendiri. Oleh karena itu, sesuatu yang sebenarnya baik, tidak akan terlihat baik ketika ego dan emosinya menginginkan kebebasan tetapi orangtua memberikan batasan.

Benturan pun terjadi.

Itulah mengapa banyak kasus kawin lari atau hal-hal buruk yang berkaitan dengan lawan jenis. Banyak yang dilakukan karena keinginan untuk "bebas" dalam diri anak-anak mendorng mereka melakukan pemberontakan terhadap batasan yang ditetapkan orangtua.

Apalagi ketika hormon mereka pun cenderung untuk mendorong mereka tertarik pada lawan jenisnya.

Jadilah perseteruan antar anak dan ortu.

Tetapi, pertanyaan itu hadir dalam diri setiap orangtua. Sayapun demikian adanya. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul ketika si kribo kesayangan sudah mulai beranjak remaja.

Bolehkah dia mulai menjalin hubungan dengan seorang gadis?

Berbahayakah kalau dia mulai memiliki pacar?


Tidak berbeda dengan apa yang orangtua saya rasakan di masa lalu. Pertanyaan-pertanyaan itu hadir.

Hanya, saya dan istri memutuskan untuk melakukan hal yang berbeda.

Kami tidak membuat batasan tentang hal itu.

Bukan karena kami tidak khawatir. Tetapi, kami memandang bahwa hal itu adalah proses belajar yang mau tidak mau harus dilalui semua manusia. Tidak bisa dicegah. Semua manusia sudah pasti akan selalu berinterkasi bukan hanya dengan sesama jenis, tetapi juga dengan lain jenis.

Lagi-lagi itu kodratnya.

Mencoba mengakali dan memberikan batasan tentang hal itu hanya akan menghasilkan perseturan khas yang sering terjadi di generasi sebelumnya.

Tidak ada gunanya.

Kami memutuskan untuk memberikan ruang bagi si kribo untuk mengeksplorasi hal tersebut sesuai dengan kemauannya. Bagaimanapun, itu adalah hidupnya dan bukan hidup kami. Ia berhak menggunakannya sesuai dengan kemauannya.

Yang bisa kami lakukan hanyalah mendampingi. Memberikan masukan. Memberikan arahan.

Karena, bagaimanapun hubungan antar manusia, termasuk dengan lawan jenis, terikat pada aturan dan norma yang berlaku kalau tidak mau berakibat buruk. Untuk itulah pendampingan dari kami sebagai orangtuanya akan sangat dibutuhkan olehnya dalam menemukan apa yang dikehendakinya.

Tidak masalah jika ia hanya ingin berteman dengan seorang atau beberapa gadis.

Tidak masalah juga jika ia ingin menjalin "cinta monyet" dengan salah satu diantaranya.

Bagi kami, itu adalah sebuah proses pembelajaran yang harus dijalaninya. Di masa depan, hal itu pasti akan berguna bagi kehidupannya. Tidak mungkin ia tidak bergaul dengan lawan jenisnya di masa depan. Untuk itu ia juga harus belajar sejak dini.

Dan, kami memutuskan untuk menyerahkan kapan waktunya pada dirinya. Ia yang akan menjalaninya. Sedangkan kami, tugasnya adalah memastikan ia memiliki pengetahuan yang cukup untuk menghindari resiko yang bisa berakibat buruk bagi kehidupannya.

Itu saja.

Bukan kami, orangtuanya, yang memutuskan kapan waktunya. Dialah yang harus menentukan itu karena ia lebih tahu lebih tepat tentang dirinya sendiri.



Advertisement

Baca juga: